Senin, 14 Mei 2018

Pendekar Bersayap Putih (Bagian 2)


Sore itu aku mengira, Mama hanya mengarang cerita hikmah tentang Maryam. Tiga tahun berlalu. Aku baru mengetahui, cerita Mama saat itu benar adanya.

Kisah itu diabadikan dalam al-Quran surat Maryam ayat 25. Aku baru tahu kemarin sore, setelah mendengar ceramah Ustadz Budi Ashari di ponselku.

Ah, anggap saja ini satu dari sekian banyak ketidaktahuanku.

Dan sejak sore itu juga, entah mengapa, aku merasa banyak hal hadir, seolah ingin meruntuhkan dua pondasi yang baru aku bangun.
Eehhh.

Sudah mau jam delapan. Seragam silat, pemberat kaki, dan tekad sudah aku persiapkan dengan baik. Aku beranjak dari kamar, mampir sebentar ke dapur, pamitan ke Pendekar Cantik. Dialah mamaku.

“Ma, Aini pamit berangkat ke kampus dulu ya.” ucapku saat memasuki dapur.

“Dulu atau sekarang?” jawab mama.

“Ah, maksudnya sekarang, Ma.”

“Nah, begitu donk, jelas. Sarapan dulu, An.”

“Di-bontotin saja ya, Ma.”

“Boleh. Tolong Mama, ambilkan kotak makan di rak.”

“Oke.”

Kotak makan yang aku cari tak kunjung ketemu. “Kok tidak ada, Ma?” Aku masih tetap mencarinya. Mungkin di bawah cobek.

Ah, tidak ada juga.

“Ini An bekalmu.”

Itulah mamaku, antara usil dan asyik tidak bisa dibedakan. Ada saja yang dilakukan untuk menggodaku.

Itulah mamaku, perempuan tangguh yang tak pernah bersedih meski single parent merawatku.

“Huuuuft. Tidak kaget kalau Mama usil.” kataku sambil meraih kotak makan yang sudah berisi dari tangannya.

Mama ketawa. Aku tersenyum.

“Aini berangkat, Ma. Assalamu alaikum.” aku mencium punggung tangan kanannya.

“Wa alaikum salam. Hati-hati, An.” jawab mama sambil mencium lembut keningku.

Aku berangkat ke kampus dengan semangat yang berapi-api. Menggelora dalam dada. Sudah tiga tahun lebih aku berlatih silat, baru kali ini aku mendapatkan kesempatan untuk unjuk diri di atas gelanggang.

Namaku Dzun Nuraini, putri Bapak Santosa dan Ibu Humairah. Aku seorang pesilat. Aku bukan perempuan cengeng.

Aku yakin, aku bisa. Akan aku buktikan, bahwa aku sanggup untuk membawa pulang medali emas. Untuk kampusku, guru silatku sewaktu SMA dulu, dan tentunya untuk kedua orang tuaku.

Kalau kau meragukanku, tidak masalah. Aku hanya perlu membuktikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar