Minggu, 13 Mei 2018

Pendekar Bersayap Putih (Bagian 1)


Jika kau menilai semua perempuan itu cengeng lagi lemah, kau salah!

Sebagian mungkin, tapi setidaknya, itu bukan aku. Ini bukan soal kesombongan, melainkan sebuah prinsip. Bahwa aku dilahirkan, tidak untuk menjadi perempuan seperti itu. Asal kau tahu saja, laki-laki dan perempuan itu, sama kuatnya. Jika sekarang kau belum menyadarinya, aku berdoa suatu saat kau akan menyadari itu.

Bahkan, aku tidak suka melihat atau mendengar ada manusia yang meneteskan air mata kesedihan karena manusia. Baik itu laki-laki maupun perempuan. Sah-sah saja menangis. Tapi bagiku, menumpahkan tangis kesedihan karena manusia merupakan sebuah lelucon.
Kau boleh saja tidak sependapat denganku.

Aku berpendapat demikian bukan atas egoku. Semenjak aku ikut pencak silat, Mama mengajariku tentang arti prinsip dan kekuatan. Saat itu, usiaku 16 tahun, baru duduk di bangku SMA kelas 1. Kata Mama, dua pondasi itu harus tertanam kuat dalam diri dan sanubariku.

“An, kau tahu Maryam?” tanya Mama sambil mengusap keringat yang membanjir di pipinya.
 
“Maryam ibunda Nabi Isa?” jawabku sambil menuangkan air ke gelas kemudian aku berikan kepada Mama.

Sore itu, setelah salat Asar, aku dan ibu sedang melatih gerakan dan beberapa jurus di pekarangan. Tepatnya di belakang rumah, di bawah pohon mangga yang lumayan tinggi nan rimbun. Hampir dua jam kami berlatih, sebelum akhirnya Mama mengajakku untuk menyudahi latihan.

Usai latihan, kami bernaung di bawah pohon mangga.

“Iya. Menurutmu, apakah saat ini, masih ada perempuan sekuat Maryam?” ibu meneguk air putih, kemudian meletakkan gelas kosong di samping tubuhnya. “Atau bahkan laki-laki?” imbuhnya.

“Memangnya sekuat apa Maryam, Ma?”

“An, coba kau berdiri, lalu guncangkan pohon mangga ini. Mama pengen tahu, berapa buah yang akan jatuh.” kata Mama sambil menunjuk ke pohon mangga.

“Ah, Mama bercanda?” tanyaku heran.

“Mama serius, An.” jawabnya dengan senyum tipis.

Baiklah, aku ikut apa keinginan Mama.

Aku berjalan mendekati pohon mangga di samping kiriku. Aku bersiap. Kedua kaki membentang, membentuk kuda-kuda. Kedua tanganku memegang erat pangkal pohon mangga. Kedua mataku menatap ke depan penuh konsentrasi. Aku menarik nafas panjang, menahan di dada, kemudian kucoba mengguncang pohon mangga itu sekuat tenaga.


Percuma, tidak ada satupun yang jatuh.

Sekali, dua kali, tiga kali aku mencoba dengan cara yang sama. Bahkan, tangkai kering pun tiada yang jatuh.

Aku menyerah. Mama tertawa ringan melihatku.

Ah, yang benar saja. Maksudku, siapa yang sanggup menjatuhkan buah mangga dengan cara mengguncang pohonnya. Bahkan, Aku yakin, petinju sekelas Mike Tyson atau pesilat sekaliber Eko Uwais pun tak akan sanggup.

“Sini, An! Duduk samping Mama.”

Kembali, aku duduk di samping Mama.

“Rapikan kerudungmu, An” pinta Mama.

“Siap, Pendekar Cantik.” jawabku sambil merapikan kerudungku. Mama tersenyum.
“Kau tahu, An. Dulu, Maryam sanggup menggoyahkan pohon kurma hingga buahnya berjatuhan.”

“Ah, Mama. Sudah pasti itu karena kuasa Allah.”

“Memang benar, segalanya atas kuasa Allah. Tapi, jika semua mutlak karena kuasa-Nya, maka untuk apa Maryam susah payah menggoyahkan pohon kurma itu. Padahal, dengan kuasa Allah, buah kurma itu bisa jatuh dengan sendirinya. Maryam hanya perlu memungut, kemudian menikmatinya.”

“Menurutmu, apakah Maryam sekuat itu, An?” tanya Mama sambil membelai kepalaku.
Aku terdiam. Berpikir sejenak.

“Aini punya dua jawaban, Ma. Pertama, Allah memberikan kekuatan kepada Maryam untuk mengguncang pohon kurma itu. Kedua, Allah melemahkan pohon kurma itu, sehingga dengan guncangan ringan dari Maryam pun mampu menjatuhkan buahnya.”

Mama tersenyum cerah. “Jawaban cerdas, An. Itulah yang Mama maksud dengan dua pondasi utama.  Prinsip keimanan dan kekuatan tawakal. Iman-lah, yang akan menuntunmu bangkit dan terus mencoba, di saat tidak ada kata, selain menyerah. Bukankah dengan iman dan akhlaq manusia akan kuat?”

Aku mengangguk.

“Sebagai manusia, kita hanya perlu mencoba dan berdoa. Selebihnya, serahkan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Sebagaimana kisah Maryam, di saat kita tidak memiliki kekuatan untuk menggoyahkan pohon kurma, kuasa Allah-lah yang akan melemahkan pohon kurma itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar